Gencatan Senjata - Pada tahun 1983 perlawanan barada dalam kacau balau, bulan maret 1981, Xanana Gusmão di pilih CRRN, sementara kontak dengan ABRI di hindari, gangguan gangguan pasukan ABRI dan korban berat berlanjut terus – terutama operasi keamanan ABRI. Xanana menghabiskan hampir sepanjang tahun 1983 di hutan hutan distrik Lautem, bertemu sebentar di bulan September administrator apostolik keuskupan Dili monsignor Martinho da Costa Lopes. Monsignor martinho di laporkan bersimpati pada perlawanan, tetapi mendorong sikap moderat dan memperingatkan terhadap ekses ekses komunisme.
Pada akhir 1982, mayor Gatot Purwanto, komandan nanggala 28 kopassandha mengadakan hubungan dengan komandan sector Fretelin / Falintil Falo Chai, di dekat wailana sekitar 20 Kilometer di sebelah selatan Los Palos untuk membahas penghentian permusuhan. Pada awal 1983, Xanana mengjawab dengan mengusulkan suatu gencatan senjata – atau periode “Kontak Damai” dengan ABRI dan melakukan kontak dengan perwira-perwira Indonesia. Tujuannya adalah mendapatkan masa istirahat bagi FALINTIL dan membangun Kembali hubungan dengan kader Klandestin di desa-desa dan kota-kota yang jumlahnya sedikit. Suatu politik persatuan nasional juga diluncurkan oleh perlawanan dalam mana peran semua orang nasionalis, termasuk Gerakan mahasiswa yang sedang muncul, sekarang di akui dan politik sebelumnya “Perundingan – tidak dan tidak akan pernah” di tinggalkan. ABRI juga dilaporkan lelah berperang dan menerima usulan tersebut – tetapi tidak mau perundingan ini di buka kepada umum.
Tanggal 21 Maret 1983, pembicaraan awal gencatan senjata di selenggarakan dengan para perwira Indonesia di Bubu Rake (desa Liaruka) di kabupaten Viqueque bagian barat laut (sekitar 12 km di barat daya Venilale) – yang meliputi Xanana dan perwira ABRI Mayor Willem da Costa, Mayor Stefanus dan Kapten Dayun. Beberapa hari kemudian, 23 Maret, Xanana Menandatanggani kesepakatan gencatan senjata untuk seluruh untuk seluruh Timor-Leste di Lariguto (desa Ossu de Cima – sekitar 9 kilometer de sebelah barat daya Venilale) dengan Gatot Purwanto, yang sekarang naik pangkat menjadi kolonel dan diangkat menjadi komandan ABRI untuk Timor-Leste, Gubernur Mario Carrascalao juga di laporkan menghadiri pertemuan ini.
Selanjutnya, yang pertama dari sejumlah perjanjian lokal di tandatanggani di moro (sebuah aldeia dari parlamento di utara Lospalos) oleh komisaris poilitik Fretelin sektor timor (“Ponta Leste”) dengan komandan distrik militar lospalos (DANDIM 1629, seorang letnan kolonel ABRi). Bulan juni 1983, seorang kurir (“estafeta”) dan anggota klandestin dari Iliomar, Abilio Quintão Pinto, pergi ke Lariguto dan bertemu dengan Xanana selama tiga hari untuk menerima instruksi-instruksi tentang pelaksanaan gencatan senjata di kecamatan Iliomar. Di Iliomar, gencata senjata dirundingkan oleh kepala kecamatan (Camat), Roberto Seixas Miranda. Tanggal 29 Juli, sebuah delegasi kecil Parlemen Australia melakukan kunjungan singkat ke Iliomar dengan helikopter dan berbicara dengan staff UNICEF di pusat pembagian makanan.
Dalam periode gencatan senjata, FALINTIL meningkatkan kontaknya dengan klandestin yang tersisa di desa-desa dan kota-kota dan membuat kemajuan dalam mengajak dan menarik anggota-anggota hansip untuk menjadi kader dan simpatisan Klandestin. Menurut Kolonel Gatot Purwanto, pasukan ABRI bertemu bertemu di kota-kota dab desa-desa – “kami saling menyapa Ketika berpapasan dijalan”. Menurut seorang penulis, FALINTIL bersenjata diberpolehkan mengunjungi desa-desa, helikopter -helikopter ABRI menangkut pastor ke gunung-gunung untuk mengadakan misa bagi para gerilyawan, dan “bahkan ada pertandingan sepak bola antara regu Angkatan darat Indonesia dengan regu gerilyawan”. Di Iliomar, tidak ada pertandingan sepak bola ABRI-FALINTIL, tetapi para gerilyawan dan tentara bersama-sama dalam pesta-pesta dan dansa-dansa di Kecamatan. Monsignor Lopes, Administrator Apostolik, mengunkapkan bahwa, “bulan juni, sebagai bagian dari dari kesepakatan gencatan senjata, helikopter-helikoter Indonesia mengangkut makanan dan obat-obatan kepada gerilyawan di gunung-gunung dan mengangkut yang sakit dan terluka ke rumah sakit Dili”. Dan menambahkan “rakyat sangat gembira dengan istirahat dari perang ini dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun bisa bercocok tanam dengan baik”.
Tetapi di Iliomar gencatan senjata berhenti pada 8 Agustus 1983 ketika anggota-anggota Hansip membunuh dua Gerilyawan FALINTIL dalam bertemuan “kontak damai” di Hamabere (“di bukit Dirilofo, tepat di sebelah utara aldeia Caentau). Empat orang hansip (Jose Madeira, Adão Cabral, Mateus Barros, Julião Telles) bertemu dengan dua anggota FALINTIL (Venancio Savio juga di kenal dengan panggilan “Mau Lorasa” sebelumnya berasal dari desa Cacaven – pemimpin ; dan Almicar Rodriques, sebelumnya berasal dari aldeia Vatamatar). Di sebuah kendang kerbau di Hamabere sekitar pukul 14.00. kedua orang FALINTIL ini mengusulkan agar Hansip Iliomar bergabung dalam serangan terhadap ABRI di Iliomar malam hari berikutnya – di pimpin oleh komandan FALINTIL lokal Armando Nolasco (nama perjuangan “Koro Asu”). Takut terjadinya pembalasan jika serangan ini diadakan, pemimpin hansip Jose Madeira – tanpa perintah dari atas, menembak dan membunuh Venancio ; Julião Teles menembak dan membunuh Amilcar, banyak orang Iliomar yang yakin bahwa kejadian di Hamabere ini menyebabkan rusaknya gencatan senjata di seluruh provinsi. Tetepi mungkin kejadian ini yang lebih serius yang terjadi di kabupaten Viqueque yang menyebabkan berakhirnya gencatan senjata 1983.
Di kabupaten Viqueque, pada 8 Agustus – sebagai balasan terhadap gangguan terhadap perempaun-perempuan setempat orang-orang Timor-Leste dalam pasukan paramilitar ABRI (ratih) melakukan desersi, bergabung dengan gerilyawan FALINTIL setempat, dan menyerang sekolompok pasukan Zeni ABRI di desa Bibileo sekitar 12 kilometer di sebelah barat daya kota Viqueque. FALINTIL membunuh 13 anggota pasukan Zeni ABRI. Seorang mayor perang urat-syaraf, dan membunuh seorang seorang perempuan perawat ABRI yang tertangkap. Tampaknya sebagai pembalasan, pada 21 agustus, ABRI membunuh 200-300 penduduk desa di wilayah Kraras. Pengaruh-pengaruh lain membuat terhentinya gencatan senjata termasuk pengumuman Jenderal Moerdani pada 8 Agustus mengenai akan dilancarkan operasi “Pembersihan” dan serangan FALINTIL tanggal 10 agustus terhadap bagian militer lapangan terbang Dili.
Selanjutnya, “Operasi Persatuan” ABRI dilancarkan bulan agustus 1983, menimbulkan korban dan menghasilkan penyerahan FALINTIL. Penyerahan biasanya dirundingkan sebelumnya melalui kepala desa atau anggota kelaurga. Tetapi banyak janji imbalan ABRI tidak dipenuhi dan, setelah peride “murah hati”, orang yang menyerah didiskriminasi dan dianiaya.
